SPIDI Makkah Leadership Program Resmi Dilaunching, Santriwati Siap Belajar 2,5 Bulan di Tanah Suci

SPIDI Female Boarding School melaunching inovasi program internasional terbarunya yakni SPIDI Makkah Leadership Program (SMLP), dalam gelaran SPIDI Islamic Edufest & Grand Launching SMLP.

SPIDI Female Boarding School melaunching inovasi program internasional terbarunya yakni SPIDI Makkah Leadership Program (SMLP), dalam gelaran SPIDI Islamic Edufest & Grand Launching SMLP.

Makassar, infosulsel.id – SPIDI Female Boarding School melaunching inovasi program internasional terbarunya yakni SPIDI Makkah Leadership Program (SMLP), dalam gelaran SPIDI Islamic Edufest & Grand Launching SMLP.

Acara peluncuran program belajar di Tanah Suci ini, berlangsung di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf (Gedung Manunggal), Kota Makassar, pada Sabtu (10/10/2026).

Melalui program Living & Learning in Saudi Arabia tersebut, SPIDI memperluas jangkauan pendidikannya keluar dari kampus utama di Maccopa, Kabupaten Maros.

SMLP dirancang khusus untuk memberikan kesempatan bagi para santriwati belajar dan menetap langsung di Makkah, Arab Saudi, selama 2,5 bulan guna memperkuat karakter, wawasan global, dan jiwa kepemimpinan berbasis nilai keislaman.

Ketua Dewan Pembina SPIDI Female Boarding School, Muzayyin Arif, menjelaskan bahwa Grand Launching SPIDI Makkah (Living and Learning in Saudi Arabia) merupakan wujud iktikad baik untuk menghadirkan sistem pendidikan yang unggul dan berwawasan global.

“Inspirasi program ini salah satunya lahir dari diskusi bersama ulama asal Sulawesi Selatan di Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali,” ucap Muzayyin Arif disela-sela kegiatan.

Terkait pelaksanaan program, Direktur SPIDI Makkah, Muthahhir Arif mengatakan, pemilihan Makkah sebagai lokasi program bukan tanpa alasan. Kota suci tersebut memiliki keistimewaan spiritual sebagai tempat berdirinya Ka’bah dan turunnya wahyu Al-Qur’an.

“Dengan semangat Living and Learning in Makkah Al-Mukarramah. Mengapa Makkah? Karena Makkah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah tanah haram, tempat Ka’bah berdiri dan menjadi kiblat kaum muslimin,” ujarnya.

Menurutnya, melalui program ini, para santriwati tidak sekadar berkunjung ke Makkah, tetapi juga menjalani kehidupan sehari-hari dengan belajar, beribadah, dan bertumbuh dalam lingkungan yang mendukung penguatan spiritualitas.

Muthahhir menjelaskan, SMLP dibangun di atas tiga pilar utama, yakni bahasa Arab, Al-Qur’an, dan kepemimpinan atau leadership.

Pada pilar bahasa Arab, santriwati akan belajar bersama pengajar penutur asli (native speaker) serta berinteraksi langsung dengan masyarakat Arab dalam kehidupan sehari-hari.

“Sementara pada pilar Al-Qur’an, mereka akan mendapat bimbingan dari para ahli Al-Qur’an dan ilmu qiraat, termasuk syekh dan syarifah yang kompeten di bidangnya,” jelasnya.

Program tersebut juga direncanakan melibatkan Jam’iyyatul Baladil Amin Al-‘Ilmiyah di Makkah bersama Prof. Dr. Ahmad bin Ahmad Al-Madi serta para pendidik lainnya.

Untuk menunjang proses pembelajaran, SPIDI menyiapkan sejumlah lingkungan pendidikan dan keagamaan, di antaranya Raudhah di Makkah, Ma’had Darus Shofwah An-Nisa’iyah Lil Banatil Karim, Masjid Ar-Rajhi, serta Masjidilharam.

“Para santriwati juga akan menempati akomodasi di kawasan Ar-Rajhi, An-Nasi. Kegiatan pembelajaran dirancang berlangsung secara intensif setiap pekan,” terang Muthahhir dalam sambutannya.

Selain pembelajaran di kelas, Muthahhir menuturkan, peserta SMLP akan mengikuti kunjungan ke sejumlah tempat bersejarah di Makkah, mengenal Masyairul Haram, serta mempelajari praktik manasik haji.

Program ini turut dilengkapi kegiatan luar ruang, rekreasi, dan olahraga sunnah, seperti berenang, memanah, serta berkuda.

“Berbagai kegiatan tersebut, diarahkan untuk membentuk karakter kepemimpinan santriwati agar lebih disiplin, mandiri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta memiliki kemampuan memimpin diri sendiri,” tuturnya.

Muthahhir berharap, pengalaman pendidikan selama 2,5 bulan di Makkah dapat memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan karakter dan spiritualitas para santriwati.

“Harapan kami, ketika mereka kembali nanti, mereka tidak hanya membawa kenangan dari Makkah, tetapi membawa Makkah dalam hati mereka. Bahasa Arab yang jauh lebih hidup, hubungan dengan Al-Qur’an yang lebih kuat, serta karakter kepemimpinan yang lebih matang,” harapnya.

Ia berharap, program tersebut mendapat keberkahan dari Allah SWT dan menjadi salah satu jalan untuk melahirkan generasi yang berilmu, beradab, serta mampu memberikan manfaat bagi umat.(Fz)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *