Maros, infosulsel.id — Polemik pelayanan RSUD dr. La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, meluas setelah video keluhan keluarga pasien viral di media sosial.
Tak hanya mempersoalkan sikap petugas keamanan atau security warganet kini ramai-ramai mengungkap pengalaman mereka saat mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut.
Berdasarkan pantauan pada kolom komentar akun TikTok infosulsel.id hingga Kamis (29/10/2026), video berdurasi lebih dari dua menit itu telah ditonton lebih dari 123 ribu kali. Unggahan tersebut juga menuai 434 komentar dan dibagikan sebanyak 741 kali.
Sejumlah komentar berisi kritik terhadap pelayanan rumah sakit. Bahkan, beberapa akun mengaku pernah mengalami kejadian serupa, mulai dari dugaan lambatnya penanganan pasien hingga sikap petugas yang dinilai kurang ramah.
Salah satu akun TikTok, Said Jhie, secara terang-terangan mengkritik pelayanan rumah sakit tersebut.
“Tidak becus memang itu RS, lambat sekali pelayanannya,” tulisnya di kolom komentar.
Komentar senada disampaikan akun Muh Nasir. Ia menyinggung persoalan ketersediaan tempat tidur pasien yang menurut pengalamannya kerap menjadi persoalan.
“Begitu memang di Palaloi. Biar banyak kosong bilang ji fullki,” tulis akun tersebut.
Keluhan lain datang dari akun Icaaaa_. Ia menceritakan pengalaman yang dialaminya pada 2016 ketika ibunya mengalami muntah darah dan disebut harus menunggu cukup lama sebelum mendapatkan penanganan.
“2016 lalu benci sekalika ini RS muntah darah mi mamakku lama sekali baru ditangani, mengamuk pa baru berdiri semua, surga tempatta makakku,” tulisnya, disertai emoji mata berkaca-kaca.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu komentar yang menarik perhatian karena menyangkut penanganan pasien dalam kondisi yang disebut membutuhkan pertolongan segera.
Akun Karmila Mila juga mengkritik sikap petugas yang menurut pengalamannya kurang ramah. Ia menilai pelayanan di rumah sakit tersebut perlu mendapat perhatian.
“Setuju, pelayanan di sini tidak terlalu bagus kasian, jutek, tidak ramah, dan santai sekali diliat sibuk ji diskusi sama temannya biar ada orang sekarat,” tulisnya.
Keluhan mengenai sikap perawat turut disampaikan akun Mom”iman. Ia mengaku pernah mengalami kejadian saat menjalani penanganan setelah keguguran pada 2022.
“Aku juga waktu keguguran tahun 2022 di rumah sakit ini malahan aku dimarahi sama perawat karena darahku jatuh ke lantai,” tulisnya.
Sementara itu, akun nannu April04 menyoroti perilaku petugas keamanan. Ia mengaku pernah berinteraksi dengan petugas saat membawa ayahnya untuk menjalani kontrol rutin.
“Itu satpam memang sedikit arogan, kalau negur agak kasar, saya sering ke RS Palaloi bawa bapak kontrol,” tulisnya.
Pengalaman serupa disampaikan akun Taurus. Ia mengaku pernah berselisih dengan petugas keamanan saat menjenguk ibunya yang dirawat di rumah sakit tersebut pada 2017.
Menurut pengakuannya, ia mempertanyakan penerapan aturan jumlah pengunjung karena melihat adanya perbedaan perlakuan terhadap keluarga pasien yang hendak menjenguk.
Adapun akun Lina, menyampaikan pengalaman yang lebih memilukan. Ia mengklaim keluarganya pernah berusaha meminta pertolongan dokter untuk ibunya, tetapi merasa tidak mendapatkan penanganan sebagaimana yang diharapkan.
“Sm Kk anakku meninggal gara cara melayaninya mamaku sudah berlutut sama dokter tapi tdk di tangani,” tulisnya.
Beragam komentar tersebut memperlihatkan bahwa video viral itu tidak hanya memicu perdebatan mengenai perilaku seorang petugas keamanan. Sejumlah warganet juga memanfaatkan kolom komentar untuk menyampaikan keluhan atas pengalaman pelayanan yang mereka klaim pernah dialami.
Meski demikian, komentar-komentar tersebut merupakan pengakuan sepihak dari masing-masing akun dan belum dapat dijadikan bukti bahwa seluruh dugaan yang disampaikan benar terjadi. Setiap pengalaman perlu ditelusuri lebih lanjut dengan meminta keterangan pihak-pihak terkait.
Sebelumnya, polemik ini bermula dari keluhan Irwan, salah seorang anggota keluarga pasien, yang membawa orang tuanya ke RSUD dr. La Palaloi pada Senin (26/10/2026) sekitar pukul 12.00 WITA.
Irwan mengaku kecewa karena pasien yang disebut dalam kondisi kritis tidak mendapatkan pemeriksaan maupun penanganan awal sebagaimana yang diharapkan keluarga.
Selain itu, keluarga mempersoalkan sikap petugas keamanan ketika memberikan penjelasan mengenai ketersediaan tempat tidur. Irwan mengklaim petugas sempat menunjukkan sebuah kamar yang disebut kosong, tetapi hanya memiliki tempat tidur bayi.
Keluarga juga mengaku memiliki rekaman video yang memperlihatkan kamar yang mereka nilai masih kosong.
Keluhan tersebut kemudian memicu perhatian publik hingga pihak pemerintah daerah dan manajemen rumah sakit menyampaikan langkah tindak lanjut terhadap petugas yang disorot.
Bupati Maros, Chaidir Syam, sebelumnya menyebut petugas keamanan yang terlihat dalam video telah dipindahtugaskan. Sementara itu, Direktur RSUD dr. La Palaloi, dr. Sri Syamsinar Rachmah, S.Ked., menjelaskan bahwa petugas tersebut telah dikembalikan kepada vendor penyedia jasa keamanan dan tidak lagi bertugas di rumah sakit.
Pihak rumah sakit juga menyampaikan bahwa dokter dan perawat instalasi gawat darurat (IGD) yang bertugas saat kejadian telah menjalani pembinaan dan menerima surat peringatan pertama (SP 1).
Namun publik pun bertanya-tanya, hingga sampai hari ini belum ada kalimat permintaan maaf oleh pihak rumah sakit.
Direktur RSUD dr. La Palaloi, dr. Sri Syamsinar Rachmah yang dikonfirmasi infosulse.id pada Kamis (29/10/2026) siang, terkait keluhan ratusan Komentar warganet hingga berita ini diterbitkan belum juga merespons.(Far)

