Pasien Kritis Diduga Tak Mendapat Penanganan Awal, Manajemen dan Security RSUD dr. La Palaloi Disorot

Foto: RSUD dr. La Palaloi, Kabupaten Maros, menjadi sorotan setelah keluarga pasien mengeluhkan dugaan tidak adanya penanganan awal terhadap pasien yang disebut dalam kondisi kritis. Keluarga juga mempersoalkan sikap petugas keamanan rumah sakit.

Foto: RSUD dr. La Palaloi, Kabupaten Maros, menjadi sorotan setelah keluarga pasien mengeluhkan dugaan tidak adanya penanganan awal terhadap pasien yang disebut dalam kondisi kritis. Keluarga juga mempersoalkan sikap petugas keamanan rumah sakit.

Maros, infosulsel.id — Keluarga pasien menyampaikan keluhan terhadap pelayanan RSUD dr. La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mereka mengaku kecewa karena pasien yang disebut dalam kondisi kritis diduga tidak memperoleh pemeriksaan maupun penanganan awal saat tiba di rumah sakit tersebut.

Tak hanya soal penanganan medis, keluarga juga mempersoalkan perilaku seorang petugas keamanan atau security yang dianggap tidak pantas ketika mereka meminta penjelasan mengenai ketersediaan tempat tidur untuk pasien.

Kejadian tersebut diklaim berlangsung pada Senin (26/10/2026) sekitar pukul 12.00 WITA.

Irwan, salah seorang anggota keluarga pasien, menceritakan bahwa petugas keamanan sempat menunjukkan sebuah kamar yang disebut masih kosong. Namun, kamar tersebut dikatakannya hanya memiliki tempat tidur bayi.

“Security itu tunjuk kamar sambil bilang bahwa ini ada kamar kosong, tapi tempat tidur bayi. Nah, yang buat kami jengkel, setelah dia bilang seperti itu, dia sambil senyum-senyum, seakan-akan mengejek dan merendahkan,” ungkap Irwan kepada infosulsel.id dengan nada geram.

Menurut Irwan, sikap tersebut menambah kekecewaan keluarga yang saat itu tengah berusaha mendapatkan pertolongan medis bagi orang tua mereka. Kondisi pasien disebut membutuhkan penanganan segera lantaran mengalami kesulitan menerima makanan.

“Orang tua kami sudah tidak mau makan, setiap ada makanan yang masuk itu muntah, jadi memang butuh perawatan medis segera,” katanya.

Keluarga juga mempertanyakan alasan pihak rumah sakit menyampaikan bahwa tempat tidur telah penuh. Mereka mengaku tidak memperoleh penjelasan langsung dari perawat maupun manajemen rumah sakit mengenai kondisi tersebut.

Padahal, berdasarkan penelusuran yang dilakukan keluarga, terdapat kamar yang mereka nilai masih kosong di rumah sakit tersebut.

“Yang kami sayangkan lagi, tidak ada pihak perawat ataupun manajemen rumah sakit yang memberikan penjelasan kenapa sampai dikatakan tidak ada tempat tidur yang kosong. Padahal, setelah keluarga menelusuri, ternyata ada kamar yang kosong,” ujarnya.

Irwan menegaskan, keluhan yang disampaikan keluarga didasarkan pada kondisi yang mereka temukan di lapangan. Mereka mengaku memiliki rekaman video yang memperlihatkan kamar yang disebut masih kosong tersebut.

“Kami berbicara seperti ini berdasarkan fakta dan data di lapangan, dan itu diperkuat dengan video yang diambil keluarga kami. Di situ terlihat jelas ada kamar yang kosong,” tegasnya.

Sebelum mendatangi RSUD dr. La Palaloi, keluarga mengaku sempat membawa pasien ke rumah sakit lain untuk memperoleh pelayanan medis.

Di rumah sakit sebelumnya, mereka mendapat informasi dari perawat bahwa tempat tidur pasien telah terisi seluruhnya. Keluarga mengaku dapat memahami penjelasan tersebut karena disampaikan dengan baik setelah dilakukan pengecekan.

Mereka kemudian diarahkan untuk membawa pasien ke RSUD dr. La Palaloi.

Namun, keluarga mengaku kembali kecewa setelah tiba di rumah sakit tersebut. Mereka menilai pasien yang disebut dalam kondisi kritis tidak mendapatkan pemeriksaan atau tindakan awal sebagaimana yang mereka harapkan.

“Tentu kami sangat kecewa atas kejadian ini, karena orang tua kami itu kritis, tetapi pihak RSUD dr. La Palaloi tidak melakukan apa-apa sama sekali. Bahkan, dilakukan pengecekan atau tindakan awal pun tidak ada,” tuturnya.

Atas kejadian itu, keluarga meminta manajemen RSUD dr. La Palaloi mengevaluasi pelayanan tenaga medis dan petugas keamanan. Mereka secara khusus berharap perilaku *security* yang dipersoalkan dapat ditindaklanjuti dengan pemberian sanksi.

“Kami harap ini bisa jadi bahan evaluasi untuk manajemen rumah sakit, utamanya dokter, perawat dan security. Terutama security, kami harap itu diberikan sanksi tegas karena sangat tidak sopan,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr. La Palaloi, dr. Sri Syamsinar Rachmah, S.Ked., yang dikonfirmasi infosulsel.id pada Selasa pagi (27/10/2026), mengatakan bahwa pihak rumah sakit akan menelusuri kejadian tersebut ke unit terkait.

“Iyee sementara kami konfirmasi kembali ke unit terkait setelah itu kami konfirmasi kembali dari RS,”(Far)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *