DLH Makassar Nilai Urban Farming Lorong Ampera, Warga Kembangkan Ikan Lele hingga Pengolahan Teba

Lorong Ampera atau Lorong 137A, RW 05, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, menjadi lokasi penilaian program urban farming oleh tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Senin (26/10/2026).(Dok ist)

Lorong Ampera atau Lorong 137A, RW 05, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, menjadi lokasi penilaian program urban farming oleh tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Senin (26/10/2026).(Dok ist)

Makassar, infosulsel.id – Lorong Ampera atau Lorong 137A, RW 05, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, menjadi lokasi penilaian program urban farming oleh tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Senin (26/10/2026).

Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi dalam pengembangan lingkungan produktif berbasis partisipasi masyarakat. Berbagai kegiatan telah dikembangkan warga, mulai dari pertanian perkotaan, budidaya ikan lele, pemeliharaan ayam petelur, hingga pengolahan teba.

Program ini menjadi salah satu upaya memanfaatkan keterbatasan lahan di kawasan perkotaan agar lebih produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.

Melalui konsep urban farming, warga tidak hanya didorong untuk menciptakan lingkungan yang hijau dan tertata, tetapi juga mampu menghasilkan sumber pangan mandiri bagi kebutuhan rumah tangga.

Budidaya lele dan pemeliharaan ayam petelur, misalnya, berpotensi membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha berskala kecil apabila dikelola secara optimal.

Dalam penilaian tersebut, keberhasilan program diharapkan tidak hanya dilihat dari tampilan kawasan, tetapi juga mencakup produktivitas tanaman, hasil budidaya ikan, kesehatan ternak, kebersihan lingkungan, serta pengelolaan air dan limbah.

Lurah Melayu, Sinar, turut hadir mendampingi tim penilai DLH Kota Makassar. Kegiatan ini juga dihadiri Ketua RW 05 Jamaluddin, Ketua RT 01 RW 05 Jamil, Ketua Pokmas 2 Husni Noor Yasin, kader PKK Kelurahan Melayu, serta sejumlah warga setempat.

Keterlibatan unsur pemerintah kelurahan, pengurus lingkungan, kelompok masyarakat, dan kader PKK menjadi bagian penting dalam mendukung keberlangsungan program tersebut.

Selain pengembangan pertanian dan peternakan, pengolahan teba juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian. Keberadaan fasilitas pengolahan lingkungan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kebersihan dan kesehatan kawasan permukiman.

Ke depan, konsistensi warga dalam melakukan perawatan, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi secara berkala menjadi faktor penting agar seluruh kegiatan dapat berjalan berkelanjutan.

Penilaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat Lorong Ampera untuk terus mengembangkan inovasi lingkungan yang produktif dan memberikan manfaat langsung bagi warga.

Dengan pengelolaan yang baik dan partisipasi masyarakat yang berkelanjutan, Lorong Ampera berpeluang menjadi salah satu contoh kawasan urban farming di Kota Makassar yang mampu mengoptimalkan ruang terbatas menjadi sumber pangan, peluang ekonomi, sekaligus lingkungan permukiman yang lebih sehat dan asri.(Fz)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *