Makassar, infosulsel.id – Pemerintah Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, memperkuat koordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah kelurahan untuk mengantisipasi aksi tawuran kelompok serta aktivitas geng motor yang berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan menyusul maraknya informasi mengenai Makassar yang disebut tidak aman di media sosial, termasuk beredarnya video dan kabar yang belum tentu benar.
Camat Panakkukang, Syahril, mengatakan pihaknya telah melakukan konsolidasi bersama kepolisian, Babinsa, dan para lurah untuk memetakan wilayah yang berpotensi menjadi lokasi terjadinya gangguan keamanan.
Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak benar turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kondisi keamanan di Kota Makassar. Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Memang ada video-video viral yang menggambarkan Makassar tidak aman akibat perang kelompok. Namun, ada juga hoaks yang beredar. Contohnya, video pemotongan tubuh yang sebenarnya tidak benar. Ini yang perlu kita sikapi bersama agar masyarakat tidak berlebihan dalam menanggapi informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Syahril saat ditemui diruang kerjanya pada Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah kecamatan telah meneruskan koordinasi dengan aparat keamanan hingga tingkat kelurahan. Sejumlah lurah juga telah menggelar rapat untuk memetakan wilayah rawan tawuran dan potensi tindak kriminalitas.
Syahril menyebutkan, wilayah Panakkukang dan Tamamaung sebelumnya kerap diwarnai konflik antarkelompok. Namun, melalui koordinasi lintas sektor, konflik serupa disebut sudah tidak terdengar dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, pemerintah kecamatan tetap mewaspadai sejumlah titik, termasuk kawasan perbatasan Urip Sumoharjo yang dinilai berpotensi menjadi lokasi bentrokan kelompok, termasuk yang melibatkan warga dari luar wilayah.
“Alhamdulillah, dengan kolaborasi bersama jajaran Polsek dan Danramil, konflik-konflik yang sebelumnya sering terjadi di wilayah Panakkukang dan Tamamaung sudah tidak terdengar dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kami tetap melakukan antisipasi,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Kecamatan Panakkukang bersama aparat kepolisian menyiapkan agenda patroli malam hingga menjelang subuh. Kegiatan tersebut direncanakan sekaligus untuk memetakan titik rawan dan memperkuat pendekatan kepada masyarakat.
Syahril mengatakan, patroli tidak hanya berorientasi pada pengawasan keamanan, tetapi juga membangun komunikasi langsung dengan warga di wilayah yang dinilai berpotensi mengalami gangguan kamtibmas.
“Kami bersama kepolisian akan turun langsung. Pertama, untuk mengetahui pemetaan wilayah-wilayah rawan. Kedua, mendekatkan diri kepada masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, upaya menjaga keamanan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab kepolisian dan TNI. Pemerintah kecamatan, kelurahan, RT/RW, hingga masyarakat perlu terlibat aktif dalam mendeteksi potensi konflik sejak dini.
Dengan luas wilayah sekitar enam kilometer persegi, Kecamatan Panakkukang memiliki 90 RW dan 475 RT. Menurut Syahril, keterlibatan perangkat wilayah sangat penting untuk membantu aparat memperoleh informasi awal mengenai potensi gangguan keamanan.
“Kami berharap kolaborasi seluruh masyarakat karena tugas menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas tentara atau polisi. Pemerintah, RT, RW, dan masyarakat juga harus berperan memberikan informasi awal apabila ada potensi gangguan,” ujarnya.
Selain memperkuat patroli dan koordinasi, Syahril turut mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam mencegah keterlibatan anak muda dalam aksi tawuran maupun geng motor.
Ia meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama ketika berada di luar rumah pada malam hari hingga dini hari.
Menurutnya, pengawasan keluarga dan kepedulian lingkungan menjadi bagian penting dalam mencegah anak terlibat dalam perilaku yang berpotensi berujung pada persoalan hukum.
“Kami berharap peran serta seluruh masyarakat, khususnya orang tua, untuk terus menjaga, memantau, dan mengontrol anak-anaknya. Pengawasan keluarga sangat penting agar anak-anak tidak terlibat dalam aksi yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain,” tuturnya.
Syahril juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan provokasi maupun menyebarkan informasi yang dapat memperkeruh situasi. Ia berharap warga lebih mengutamakan informasi yang terverifikasi dan segera melaporkan potensi gangguan keamanan kepada aparat setempat.(Far)

