Polda Sulsel Launching Pusat Studi Kepolisian di UNHAS dan UMI, 74 Kampus Kini Jadi Mitra Akademik Polri

Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan resmi melaunching Pusat Studi Kepolisian di Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu (9/9/2026).

Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan resmi melaunching Pusat Studi Kepolisian di Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu (9/9/2026).

Makassar, infosulsel.id – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan resmi melaunching Pusat Studi Kepolisian di Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu (9/9/2026).

Launching tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara kepolisian dengan kedua perguruan tinggi di Makassar tersebut.

Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Komjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana mengatakan, Pusat Studi Kepolisian merupakan bagian dari upaya kepolisian untuk terus belajar dan mengembangkan diri dengan melibatkan kalangan akademisi.

“Pusat Studi Kepolisian merupakan suatu bagian untuk kita selalu belajar. Karena mengembangkan polisi dan pemolisiannya perlu dukungan, kajian, pembelajaran dari kalangan civitas akademika,” katanya saat ditemui di Menara UMI Makassar.

Menurut Chryshnanda, keberadaan Pusat Studi Kepolisian di UMI juga menjadi bagian dari upaya membangun dialog peradaban sekaligus mengembangkan kompetensi sumber daya manusia, khususnya anggota Polri yang banyak menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut.

Ia menilai, ruang-ruang pembelajaran seperti ini perlu terus dikembangkan dengan mengedepankan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Dengan Pusat Studi Kepolisian tentu akan bisa menjadi ruang untuk mengkaji, mendorong juga untuk bisa ada suatu kemitraan. Bagaimana polisi bisa mengembangkan atau pemolisiannya dapat diterima, bisa memahami dan profesional, cerdas, bermoral,” ujarnya.

Chryshnanda menyebut Pusat Studi Kepolisian dapat dikembangkan pada berbagai jenjang pendidikan karena melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Saat ini, kata dia, Pusat Studi Kepolisian telah dikembangkan di 74 perguruan tinggi di Indonesia. Khusus di Makassar, terdapat dua perguruan tinggi yang memiliki Pusat Studi Kepolisian, yakni Unhas dan UMI.

“Di seluruh Indonesia 74. Kalau di Makassar ini ada dua. Ini gagasan justru dari Makassar sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan, Polda Sulsel akan segera melakukan kolaborasi dengan Pusat Studi Kepolisian UMI untuk membahas berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

“Pertama adalah menyangkut kehidupan sosial di masyarakat. Permasalahan-permasalahan di masyarakat yang tadi disampaikan oleh Bapak Rektor, bahwa dampaknya terakhir adalah kampus,” kata Djuhandhani.

Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat perlu didiskusikan bersama kalangan akademisi agar dapat ditemukan arah dan solusi yang tepat dalam penyelesaiannya.

“Di mana kita melihat ada berbagai permasalahan-permasalahan di masyarakat yang tentu saja ini akan kita diskusikan, kita bicarakan yang akhirnya harapan kami kita mendapatkan arah ke mana untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat ini,” ujarnya.

Djuhandhani menegaskan, untuk saat ini Pusat Studi Kepolisian di wilayah hukum Polda Sulsel berada di Unhas dan UMI. Ia juga menyebut gagasan awal pembentukan Pusat Studi Kepolisian pertama kali dicetuskan di Polda Sulsel.

“Jadi walaupun Polda-Polda lain juga melaksanakan peresmian, tapi ide pertama adalah di Polda Sulsel dan ini buah pikiran dari Bapak Komjen Chryshnanda waktu itu,” jelasnya.

Ia berharap keberadaan Pusat Studi Kepolisian semakin memperkuat sinergitas antara perguruan tinggi dan kepolisian.

“Harapan ke depan tentu saja yang utama adalah sinergitas antara universitas dengan kepolisian. Dari pusat studi kepolisian itu bisa mengambil sebuah kesimpulan-kesimpulan dalam rangka memberikan masukan kepada kepolisian dalam menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat,” katanya.

Wakil Rektor II UMI Makassar, Prof. Zakir Sabara menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada UMI untuk membuka Pusat Studi Kepolisian.

Menurutnya, keberadaan pusat studi tersebut menjadi momentum penting setelah era reformasi 1998 karena memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa dan civitas akademika untuk berdiskusi, menyampaikan gagasan, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Ini momentum terbaik setelah reformasi 1998. Di mana mahasiswa dan seluruh civitas akademika punya ruang dan tempat untuk beradu gagasan, memberikan solusi, bahkan memberikan early warning bagi kepolisian ketika berhadapan dengan situasi harkamtibmas yang terjadi, khususnya di Polda Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Zakir mengatakan, UMI merasa terhormat dan bahagia karena dipercaya menjadi salah satu perguruan tinggi yang membuka Pusat Studi Kepolisian.

“Ini adalah kehormatan, ini adalah kebahagiaan tersendiri, karena UMI adalah salah satu kampus yang diberi kehormatan untuk membuka pusat studi kepolisian,” katanya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Kapolda Sulsel dan jajaran Mabes Polri atas amanah dan kepercayaan yang diberikan kepada UMI.

Ke depan, UMI berkomitmen menjaga kepercayaan tersebut dengan menjadikan Pusat Studi Kepolisian sebagai wadah yang produktif dan sinergis untuk menghasilkan gagasan serta rekomendasi bagi kepolisian.

“Yang paling penting memberi solusi, memberi masukan-masukan yang tangguh agar polisi bisa mengantisipasi berbagai hal, situasi, dan kondisi yang terjadi pada saat ini,” pungkasnya.(Fz)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *