Keluarga di Luwu Tinggal di Rumah Tak Layak Huni, Kini Butuh Perhatian Pemerintah

Kondisi rumah Nirwana di Lingkungan Batu Murrung, Desa Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu.

Kondisi rumah Nirwana di Lingkungan Batu Murrung, Desa Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu.

Luwu, infosulsel.id – Di tengah pembangunan daerah yang terus berjalan, masih terdapat keluarga yang harus bertahan hidup di rumah yang jauh dari kata layak huni.

Kondisi tersebut dialami sebuah keluarga yang tinggal di Lingkungan Batu Murrung, Desa Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu. Rumah yang mereka tempati kini dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serta bantuan pemerintah.

Dari luar, kondisi rumah terlihat sangat sederhana. Dinding rumah terbuat dari papan yang sebagian telah lapuk. Sementara bagian atap menggunakan anyaman yang sudah rusak dan berlubang di sejumlah bagian.

Kondisi bagian dalam rumah juga tidak jauh berbeda. Kerusakan atap membuat cahaya matahari dapat langsung masuk ke dalam rumah. Sejumlah bagian dinding hanya ditambal menggunakan material seadanya.

Enam orang, termasuk seorang bayi yang baru lahir, tinggal di rumah tersebut. Kondisi rumah yang sempit dan rusak membuat keluarga tersebut harus menghadapi kesulitan, terutama ketika hujan turun.

Saat hujan deras, mereka terpaksa mencari bagian rumah yang tidak terkena bocoran air untuk sekadar bertahan.

“Tidak bisa tidur kalau hujan pak, kami duduk saja di pinggir-pinggir,” ungkap Nirwana saat ditemui wartawan, Kamis (8/10/2026).

Kondisi ekonomi keluarga juga menjadi kendala untuk melakukan perbaikan rumah secara mandiri. Suami Nirwana yang selama ini bekerja sebagai tukang batu, kini tidak lagi mampu bekerja keras seperti sebelumnya karena kondisi kesehatan.

Sementara Nirwana lebih banyak berada di rumah untuk mengurus keluarga dan anak-anak mereka.

Keterbatasan tersebut membuat harapan keluarga kini tertuju kepada pemerintah maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu.

Nirwana mengaku telah dua kali mendatangi Dinas Sosial untuk menanyakan bantuan perbaikan rumah. Namun, ia mendapat informasi bahwa anggaran bedah rumah telah dialihkan ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).

“Sudah dua kali saya datang ke Dinas Sosial pak, tapi katanya anggaran bedah rumah sudah pindah di Perkim. Saya tidak ke Perkim saat itu karena besoknya saya melahirkan. Jadi belum pernah ke sana sampai sekarang,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat turun langsung melihat kondisi rumah yang ditempatinya bersama keluarga. Bantuan rehabilitasi maupun program bedah rumah sangat diharapkan agar keluarganya dapat memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pembangunan daerah juga perlu menyentuh masyarakat yang masih hidup dalam keterbatasan.

Keluarga tersebut tidak mengharapkan kemewahan. Mereka hanya berharap memiliki rumah yang aman, atap yang tidak bocor, serta tempat tinggal yang layak bagi anak-anak mereka.

Pemerintah diharapkan dapat melakukan peninjauan dan verifikasi terhadap kondisi keluarga tersebut, untuk memastikan kelayakannya sebagai penerima bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni atau program bedah rumah sesuai ketentuan yang berlaku.(Fz)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *