Penyintas Gempa NTT Masih Bertahan di Tenda Pengungsian, Relawan UMI Datang Membantu

Korban gempa di Kampung Nggori, Desa Bangka John, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjalani pemeriksaan kesehatan dari relawan medis UMI Makassar.

Korban gempa di Kampung Nggori, Desa Bangka John, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjalani pemeriksaan kesehatan dari relawan medis UMI Makassar.

Manggarai, infosulsel.id – Warga Kampung Nggori, Desa Bangka John, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.

Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan bahkan roboh. Kondisi itu membuat warga belum berani kembali ke rumah, terlebih suhu udara di kawasan dataran tinggi tersebut cukup dingin pada malam hari.

Tokoh adat Kampung Nggori, Lambertus (53), mengatakan warga hingga kini masih menjadikan tenda sebagai tempat tinggal sementara.

“Kami tidak bisa tinggal di rumah. Kami tidak bisa tinggalkan begitu saja karena sudah roboh,” ujar Lambertus saat berbincang dengan Wakil Rektor II Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., Rabu (26/8/2026).

Menurut Lambertus, kondisi malam hari menjadi tantangan bagi warga. Suhu di kawasan tersebut bisa mencapai sekitar 13 hingga 14 derajat Celsius.

Untuk mengatasi dingin, warga hanya mengandalkan selimut dan perlengkapan seadanya selama berada di tenda pengungsian.

“Masih tinggal di tenda, termasuk kami semua. Padahal dingin sekali kalau malam,” katanya.

Lambertus juga bersyukur gempa terjadi pada pagi hari. Saat itu, sebagian besar warga telah terbangun sehingga masih sempat menyelamatkan diri.

“Syukurnya karena waktu itu pagi, jadi orang sudah bangun. Kalau malam, Pak, tidak tahu seperti apa,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, Tim Relawan Medis UMI Makassar datang langsung ke Kampung Nggori untuk memberikan pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan.

Kedatangan relawan menjadi kesempatan bagi warga untuk menyampaikan langsung kondisi yang mereka alami selama berada di pengungsian, mulai dari rumah yang rusak, keterbatasan fasilitas hingga dinginnya malam di dalam tenda.

Prof. Zakir mengatakan kehadiran tim merupakan bentuk kepedulian UMI terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

“Kami datang karena merasa ini saudara-saudara kita juga. Kita semua bersaudara. Yang bisa kita lakukan, kita lakukan bersama,” kata Prof. Zakir.

Misi kemanusiaan tersebut dilakukan Tim Relawan Medis UMI bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), AR7 Team, Tim Bantuan Medis (TBM) Fakultas Kedokteran UMI, serta KAHMI Manggarai.

Pelayanan kesehatan dipimpin dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B. Tim memberikan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada warga terdampak gempa.

Selain layanan medis dan obat-obatan, relawan juga menyalurkan tenda, perlengkapan bayi dan sejumlah kebutuhan dasar masyarakat.

Lambertus mewakili warga Kampung Nggori menyampaikan apresiasi atas kepedulian para relawan yang datang dari Makassar.

“Atas nama seluruh warga masyarakat Dusun Nggori, Desa Bangka John, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, kami menyampaikan terima kasih kepada bapak dan ibu relawan yang sudah mengunjungi kami,” ujarnya.

Ia berharap kepedulian tersebut juga dapat menjangkau masyarakat di wilayah lain yang masih terdampak gempa.

“Doa kami menyertai bapak dan ibu dalam mengunjungi tempat-tempat lain yang situasinya seperti kami alami di Kampung Nggori ini,” lanjutnya.

Tim Relawan Medis UMI diberangkatkan dari Makassar pada 20 Agustus 2026. Keberangkatan tim dilepas Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, didampingi Dekan Fakultas Kedokteran UMI Dr. dr. Nasrudin Andi Mappaware serta jajaran pimpinan universitas.

Setibanya di NTT, tim bergerak ke sejumlah lokasi terdampak untuk memberikan pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan.

Bagi UMI, kegiatan tersebut merupakan bagian dari semangat Kampus Perjuangan dan Pengabdian serta Kampus Peduli dan Berbagi. Pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari Catur Dharma UMI.

Kondisi warga Kampung Nggori menunjukkan kebutuhan penyintas gempa masih belum berakhir. Mereka masih membutuhkan tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, perlengkapan bayi, kebutuhan dasar, serta dukungan bagi kelompok rentan.

Bagi warga yang masih bertahan di tengah keterbatasan, kedatangan relawan bukan sekadar membawa bantuan. Kehadiran mereka menjadi tanda bahwa para penyintas gempa masih mendapat perhatian dan tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian.(Fz)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *