Malam Menyelimuti Pengungsian, PMI Tetap Hadir Berikan Layanan Kesehatan

PMI berikan pelayanan kesehatan di Pos Pengungsian Sengari, Kelurahan Wangkang, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

PMI berikan pelayanan kesehatan di Pos Pengungsian Sengari, Kelurahan Wangkang, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Manggarai, infosulsel.id – Malam menyelimuti Pos Pengungsian Sengari, Kelurahan Wangkang, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penerangan yang terbatas tak menyurutkan langkah tim medis Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak gempa.

Dokter, perawat dan relawan PMI tetap bersiaga di tengah kondisi pengungsian yang serba terbatas. Mereka memeriksa warga serta memberikan pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Staf Divisi Kesehatan dan Sosial Markas Pusat PMI, Mahfud, mengatakan PMI mengerahkan tim kesehatan dari sejumlah wilayah untuk menjangkau warga terdampak, terutama di lokasi pengungsian yang belum mendapatkan layanan kesehatan.

“Saat ini kami mengerahkan satu tim dari RS PMI Bogor yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat. Kemudian satu tim dari PMI DKI Jakarta yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat, serta didukung dua relawan dari PMI Kabupaten Manggarai,” ujar Mahfud, Jumat (21/8/2026)

Menurutnya, pelayanan tidak hanya dipusatkan di satu lokasi. Tim kesehatan PMI setiap hari bergerak dari satu titik pengungsian ke titik lainnya melalui layanan mobile clinic.

“Setiap hari tim melakukan *mobile clinic* ke titik-titik pengungsian yang sampai saat ini masih belum menerima layanan kesehatan. Kami berupaya mendatangi langsung masyarakat agar mereka tetap mendapatkan akses pemeriksaan dan pelayanan medis,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, sejumlah keluhan kesehatan cukup banyak ditemukan pada warga pengungsi. Di antaranya mialgia atau nyeri otot, hipertensi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta dermatitis.

“Keluhan yang cukup banyak ditemukan adalah mialgia, kemudian hipertensi dan ISPA, serta dermatitis. Data ini terus kami pantau sebagai bagian dari upaya memastikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Mahfud menegaskan, pelayanan kesehatan dalam kondisi darurat tidak boleh terhenti akibat keterbatasan fasilitas di lapangan. Termasuk ketika malam hari dan penerangan di lokasi pengungsian minim.

“Dalam kondisi darurat seperti ini, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan situasi di lapangan. Meskipun malam hari dan penerangan di lokasi pengungsian terbatas, tim medis PMI tetap berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tegasnya.

Selain memberikan pemeriksaan dan pengobatan, kehadiran tenaga medis dan relawan PMI juga menjadi dukungan moral bagi warga yang masih bertahan di pengungsian.

“Kehadiran tenaga kesehatan bukan hanya soal memberikan pemeriksaan atau pengobatan, tetapi juga memastikan masyarakat terdampak bencana merasa bahwa mereka tidak sendiri. PMI akan terus berupaya hadir sesuai kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian,” katanya.

Layanan kemanusiaan tersebut terus berlangsung dari siang hingga malam. Ketika sebagian warga mulai beristirahat, tenaga medis dan relawan tetap bersiaga untuk memberikan pertolongan.

Keterbatasan penerangan dan fasilitas di Pos Pengungsian Sengari tidak menjadi penghalang. Bagi PMI, selama masyarakat membutuhkan pelayanan, tenaga kesehatan dan relawan akan terus hadir memberikan bantuan.(**)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *