Makassar, infosulsel.id – Muktamar ke-23 Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) akan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus mempererat silaturahmi warga DDI dari berbagai daerah di Indonesia. Agenda lima tahunan tersebut, akan dirangkaikan dengan Haul ke-30 Anre Gurutta KH Abd. Rahman Ambo Dalle dan Halalbihalal Nasional.
Hal itu disampaikan Ketua Majelis Syuriyah DDI, AG. Prof. Dr. K.H.M. Faried Wadjedy, Lc., M.A., dalam konferensi pers persiapan Muktamar ke-23 DDI di kediamannya, Sabtu (3/10/2026). Konferensi pers itu dihadiri Ketua Panitia Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc, M.A., Sekretaris Panitia Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc. Gurutta Drs KH Ibnu Hajar Arief (Ketua Panitia Haul DDI) serta Ahmad Taslim dari Pesantren DDI Galesong.
Prof. Faried mengatakan, Muktamar ke-23 DDI dirancang bersamaan dengan rangkaian peringatan Haul Anre Gurutta KH Abd. Rahman Ambo Dalle, salah satu tokoh pendiri dan pembina DDI Mangkoso.
Menurutnya, Muktamar merupakan agenda organisasi yang digelar setiap lima tahun sekali dalam skala nasional. Sementara kegiatan DDI di tingkat wilayah dan daerah dilaksanakan secara berkala di masing-masing wilayah.
“Agenda muktamar yang akan datang ini insyaAllah merupakan Muktamar ke-23 DDI. Agenda ini dirancang bersamaan dengan peringatan Haul Gurutta H. M. Ambo Dalle,” ujar Prof. Faried.
Ia menjelaskan, rangkaian agenda nasional tersebut mencakup tiga kegiatan utama, yakni Muktamar, Haul, dan Halalbihalal Nasional warga DDI.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Faried menekankan pentingnya seluruh warga DDI menjaga pesan yang diwariskan Gurutta KH Abd. Rahman Ambo Dalle, yakni membangun dan membina DDI dengan keikhlasan.
Menurut dia, keikhlasan menjadi salah satu landasan penting dalam menjalankan pendidikan dan dakwah yang selama ini menjadi bagian dari perjuangan DDI.
“Yang paling utama adalah bagaimana seluruh warga DDI, khususnya unsur-unsur pimpinan di mana pun berada, tetap berkomitmen dan konsisten dengan pesan yang ditekankan oleh Gurutta: ‘Binalah DDI dengan keikhlasan’,” katanya.
Ia mengatakan, keberkahan dalam perjuangan pendidikan dan dakwah tidak semata-mata diukur melalui perhitungan materi.
“Seperti kata Gurutta, kebaikan itu bukan karena banyaknya, tetapi kebaikan itu karena berkahnya, dan berkah itu didasari atas keikhlasan,” ujarnya.
Prof. Faried menilai Muktamar ke-23 DDI tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi juga bagian dari keberlanjutan pengabdian DDI dalam membina umat dan mencetak kader ulama.
Terkait kepemimpinan organisasi, Prof. Faried menjelaskan bahwa DDI memiliki mekanisme tersendiri dalam menentukan Pengurus Besar. Keputusan strategis berada pada Majelis Syurak yang terdiri atas lima ulama.
“Jadi ada calon-calon dari bawah, nanti Majelis Syurak yang menentukan bahwa ini yang kita pilih, selesai,” jelasnya.
Setelah keputusan ditetapkan, seluruh unsur organisasi diharapkan menerima dan menjalankannya dengan prinsip sami’na wa atho’na.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut diharapkan membuat Muktamar tidak menjadi arena perebutan kepentingan, tetapi menjadi ruang musyawarah untuk menentukan arah organisasi dan program kerja.
“Pertemuan-pertemuan itu karena tidak ada pikiran untuk politik-politik, tidak ada. Tidak ada pikiran-pikiran untuk perebutan-perebutan itu, tidak ada,” katanya.
Menurut Prof. Faried, calon pemimpin DDI yang akan dipertimbangkan dalam mekanisme tersebut berasal dari kalangan ulama DDI.
“Ya, itu jelas ulama. Ulama Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI),” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Muktamar ke-23 DDI, Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., mengatakan lokasi utama yang telah disurvei dan dinilai paling memungkinkan untuk pelaksanaan Muktamar adalah Asrama Haji Sudiang, Makassar.
Pertimbangan tersebut antara lain karena lokasi memiliki area yang luas dan fasilitas kamar yang cukup banyak. Selain itu, lokasinya berada di Kota Makassar sehingga dinilai memudahkan peserta dari berbagai daerah.
“Kami memperkirakan akan ada ribuan warga DDI yang ikut meramaikan Muktamar ini. Selain utusan resmi, para alumni juga akan turut hadir,” kata Andi Aderus.
Peserta yang tidak tertampung di Asrama Haji, lanjut dia, dapat menggunakan sejumlah hotel di Kota Makassar. Dengan demikian, peserta maupun keluarga yang datang dari luar daerah dapat sekaligus memanfaatkan momentum tersebut untuk bersilaturahmi.
Peserta resmi Muktamar akan terdiri atas Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang, serta perwakilan pondok pesantren dan madrasah.
Di luar peserta resmi, warga dan alumni DDI juga diharapkan ikut meramaikan rangkaian kegiatan tersebut.
Andi Aderus menjelaskan, rangkaian kegiatan direncanakan dimulai dengan Haul Anre Gurutta KH Abd. Rahman Ambo Dalle, kemudian Muktamar, dan ditutup dengan Halalbihalal Nasional.
“Muktamar sendiri rencananya akan berlangsung mulai tanggal 13 Maret 2027. Jadi sehari sebelumnya atau malamnya diadakan Haul, lalu Muktamar, dan ditutup dengan Halalbihalal,” ujarnya.
Ia menegaskan, jadwal tersebut masih dalam tahap pematangan mengingat persiapan kegiatan masih terus dilakukan.
Dalam pelaksanaan Muktamar, perbedaan pandangan dinilai sebagai bagian dari proses musyawarah. Namun, setelah keputusan bersama ditetapkan, seluruh unsur organisasi diharapkan kembali bersatu menjalankan keputusan tersebut.
“Di DDI kita memegang prinsip: Hukmul hakimi yarfa’ul khilaf—ketika keputusan bersama sudah ditetapkan, maka seluruh perdebatan dihentikan dan semua menyatu mendukung keputusan tersebut,” kata Andi Aderus.
Selain agenda kepemimpinan dan program kerja, Muktamar ke-23 juga akan membahas penataan organisasi, termasuk penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) DDI.
Andi Aderus mengatakan, Steering Committee (SC) telah melakukan evaluasi terhadap berbagai persoalan yang muncul selama lima tahun terakhir.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah penataan klaster lembaga pendidikan DDI, termasuk pondok pesantren yang sepenuhnya dimiliki DDI, pesantren yang didirikan alumni, serta pesantren yang didirikan para simpatisan.
“Semua itu diatur secara rapi dalam AD/ART dan akan diputuskan pada Muktamar nanti,” ujarnya.
Menurut dia, penataan tersebut diperlukan untuk mengakomodasi perkembangan dan potensi DDI yang tersebar di berbagai daerah.
Prof. Faried kemudian mengajak seluruh warga DDI di berbagai tingkatan untuk bersama-sama menyukseskan Muktamar ke-23 dan Haul Anre Gurutta KH Abd. Rahman Ambo Dalle.
“Bahwasanya dalam rangka untuk menyambut Muktamar dan Haul Anre Gurutta, maka dalam kesempatan ini saya selaku Majelis Syuriyah menghimbau dan mengajak seluruh warga DDI dalam seluruh tingkatan agar supaya kita semua dengan segala keikhlasan dan kerelaan hati berusaha untuk menyukseskan rencana Muktamar ke-23 dan Haul Anre Gurutta K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle,” tuturnya.
Ia berharap rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan kebersamaan warga DDI di seluruh Indonesia.
“Insya Allah dengan hati yang ikhlas, kebersamaan kita sekaligus ini menjadi ajang silaturahim di antara warga DDI seluruh Indonesia. Semoga berhasil, semoga sukses dan berkah,” pungkasnya.
Panitia juga memperkirakan kegiatan tersebut akan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di Kota Makassar karena banyaknya peserta dan keluarga yang diperkirakan datang dari berbagai daerah.
Karena itu, panitia menyatakan terus membangun koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka persiapan pelaksanaan Muktamar ke-23 DDI.(Fz)

