Makassar, infosulsel.id – Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar menggelar Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan IV (Mandiri) Tahun 2026.
Kegiatan mengusung tema “Standarisasi Kompetensi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah yang Profesional dan Moderat” tersebut dibuka di Aula Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat malam (4/9/2026).
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, menekankan pentingnya penguatan kepribadian dan psikologis bagi setiap calon pembimbing haji. Menurutnya, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menjadi seorang pembimbing yang profesional.
“Yang saya tekankan kepada peserta salah satunya adalah penguatan psikologis, khususnya psikologi kepribadian pembimbing haji. Ini penting menyangkut profil, kapasitas, dan jati diri seorang pembimbing,” ujarnya.
Ia mengatakan, pembimbing haji harus memiliki karakter yang kuat sehingga mampu menjalankan tugas secara profesional dan tidak sekadar mengandalkan pengalaman tanpa standar kompetensi yang jelas.
“Supaya tidak menjadi pembimbing yang amatiran, tetapi menjadi pembimbing profesional dengan karakter kuat yang dimiliki,” tegasnya.
Hamdan menambahkan, penguatan kapasitas pembimbing menjadi perhatian penting, khususnya di kawasan Indonesia Timur. UIN Alauddin Makassar bersama penyelenggara haji dan umrah terus berupaya menghadirkan pelatihan dan sertifikasi untuk meningkatkan kualitas pembimbing.
Menurutnya, keberhasilan pelatihan sertifikasi tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang memperoleh sertifikat. Lebih dari itu, para peserta diharapkan benar-benar memiliki kepribadian yang matang dan profesional ketika mendampingi jemaah.
“Kalau hasil dari pembimbingan ini tidak mewujudkan pembimbing yang memiliki kepribadian kuat dan profesional, berarti kita tidak sukses. Salah satu yang paling mendasar perlu dibenahi dari pembimbing adalah penguatan kepribadiannya,” jelasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof H. Abd. Rasyid Masri menambahkan, kerja sama antara lembaganya dengan penyelenggara haji dan umrah telah berlangsung cukup panjang.
Ia menyebut, kegiatan sertifikasi dan pelatihan pembimbing haji yang digelar bersama Kementerian Agama telah mencapai 12 kali pelaksanaan. Sementara khusus bersama Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU), kegiatan tersebut kini memasuki angkatan keempat.
“Kalau dihitung, sudah 16 kali. Ini cukup panjang dan menjadi prestasi dari kerja sama kedua lembaga ini. Kerja sama antara Penyelenggara Haji dan Umrah dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin berjalan dengan baik,” katanya.
Rasyid menegaskan, tujuan utama kegiatan bukan sekadar memberikan sertifikat kepada peserta. Sertifikasi harus mampu melahirkan pembimbing yang benar-benar berkualitas serta mampu memberikan rasa aman dan tenang kepada jemaah selama proses pelaksanaan ibadah haji.
“Target kita sebenarnya bukan bagaimana saudara-saudara kita mendapat sertifikat secara formalitas saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana menghadirkan kualitas seorang pembimbing serta menjamin keselamatan, ketenangan, dan kemampuan dalam proses pembimbingan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, sertifikasi angkatan IV tahun ini diikuti sebanyak 81 peserta. Jumlah tersebut melebihi estimasi awal yang diperkirakan hanya sekitar 70 peserta.
“Awalnya estimasi kita hanya 70-an. Karena mungkin spirit dan animo mereka tinggi, akhirnya bertambah menjadi 81 orang,” ungkapnya.
Peserta tidak hanya berasal dari Sulawesi Selatan. Sejumlah peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia. Diantaranya Papua, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Palu, Gorontalo, hingga Jawa Timur. Secara keseluruhan, peserta berasal dari sekitar 12 provinsi.
Rasyid mengatakan, pada pelaksanaan sebelumnya peserta bahkan datang dari sejumlah daerah di Kalimantan, Nusa Tenggara Barat hingga Nusa Tenggara Timur.
“Tahun-tahun sebelumnya luar biasa, sampai beberapa daerah di Kalimantan juga ada. Bahkan dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Mungkin saat ini Nusa Tenggara Timur sedang berduka sehingga tidak ada utusan ke sini,” tuturnya.
Ia berharap pelaksanaan sertifikasi tersebut berjalan lancar dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembimbing ibadah haji dan umrah.
Rasyid juga mengapresiasi dukungan media yang selama ini turut mengawal dan menyosialisasikan pentingnya sertifikasi bagi pembimbing haji kepada masyarakat.
“Untuk menjadi pembimbing haji yang profesional, harus melewati pintu pelatihan sertifikasi pembimbing haji,” tutupnya.(Fz)

