Makassar, infosulsel.id – Matahari sudah meninggi ketika Rudy (39) masih duduk di balik kemudi truknya. Bukan karena perjalanan panjang yang membuatnya berhenti, bukan pula karena menunggu barang untuk diantar. Ia sedang mengantre solar.
Sejak pagi, kendaraan yang seharusnya digunakan Rudy untuk mengantar barang di sejumlah titik di Kota Makassar, justru terhenti dalam barisan panjang kendaraan di sebuah SPBU.
“Ini kita di dalam kota, mau ngantar-ngantar. Eh, dari pagi belum mengantar. Ini karena disuruh antre solar,” kata Rudy saat ditemui di tengah antrean di SPBU Pertamina 74.902.25, Jalan Pengayoman, Kecamatan Panakkukang, Jumat (11/9/2026).
Bagi Rudy, waktu adalah bagian penting dari pekerjaannya. Semakin lama truk berhenti di SPBU, semakin banyak pula waktu yang hilang untuk mengantar barang.
Hari itu, hampir empat jam waktunya habis hanya untuk menunggu giliran.
“Hampir mau 4 jam. Ini saja kerjaannya kita. Ini kondisi begini,” ujarnya.
Rudy mengatakan, dirinya mulai mengantre setelah mendapat informasi bahwa penyaluran solar di SPBU tersebut akan berlangsung sekitar pukul 11.00 Wita.
Informasi itu membuatnya memilih menunggu daripada berpindah ke tempat lain. Namun, waktu terus berjalan sementara truknya belum juga bergerak meninggalkan SPBU.
“Karena informasinya di sini jam 11.00 mulai, jadi kita mengantri sampai sekarang,” katanya.
Dua Bulan yang Tak Kunjung Jelas
Bagi Rudy, antrean panjang seperti itu bukan pemandangan baru.
Ia mengaku sudah merasakan kondisi serupa selama hampir dua bulan. Dalam rentang waktu tersebut, antrean kendaraan untuk mendapatkan solar seolah menjadi bagian dari rutinitas para sopir.
“Wah, lebih barangkali satu bulan. Lebih dua bulan, saya rasa. Mau dua bulan baru tidak jelas kenapa begini,” ungkapnya.
Solar disebut tersedia. Namun, untuk mendapatkannya, para sopir harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.
“Dibilang solar ada, tapi kita mengantri setengah mati juga di sini. Hampir dua bulan lah. Dua bulan setengah mati,” ujarnya.
Kalimat Rudy menggambarkan persoalan yang lebih besar dari sekadar menunggu bahan bakar.
Bagi sopir truk, antrean berarti pekerjaan yang tertunda. Barang yang seharusnya diantar harus menunggu. Rute perjalanan yang sudah disusun ikut berubah. Waktu kerja yang seharusnya digunakan untuk mencari penghasilan justru habis di dalam kendaraan.
“Semoga selesai lagi. Kita juga setengah mati,” tutur Rudy.
Antrean Menjadi Pemandangan di Makassar
Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM juga terlihat di sejumlah SPBU di Kota Makassar dalam beberapa waktu terakhir.
Di SPBU Pertamina 74.902.25 di Jalan Pengayoman, kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat harus menunggu untuk mendapatkan BBM.
Kondisi itu turut menjadi perhatian buruh dan mahasiswa.
Sehari sebelumnya, Kamis, 10 September 2026, puluhan buruh dan mahasiswa mendatangi kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi di Jalan Garuda, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso.
Mereka mempertanyakan persoalan ketersediaan BBM dan LPG, termasuk antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan. Pertamina kemudian menemui massa untuk berdialog.
Sales Area Manager Retail Sulselbar PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Rainier Axel Siegfried Parlindungan Gultom menyampaikan permintaan maaf atas kondisi yang terjadi.
Ia mengatakan persoalan tersebut telah berlangsung sekitar satu hingga dua bulan terakhir.
“Pertama-tama kami mengucapkan permohonan maaf atas ketidaknyamanannya yang terjadi kurang lebih satu atau dua bulan terakhir,” katanya di hadapan massa.
Rainier mengatakan Pertamina tengah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki pelayanan, termasuk berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.
“Kami berupaya semampu kami untuk memperbaiki keadaan saat ini dan seterusnya agar bisa melayani seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Salah satu langkah yang disebut dilakukan adalah mengoperasikan SPBU, khususnya di Kota Makassar, selama 24 jam untuk membantu mengurai antrean.
“Dalam waktu secepat-cepatnya, tadi malam kita juga sudah berkoordinasi dengan seluruh pihak, baik penegak hukum, dinas provinsi terkait untuk mengoperasionalkan SPBU kami terutama di Kota Makassar selama 24 jam untuk mengurai antrean yang ada,” ungkapnya.
Jawaban yang Masih Dicari
Namun, bagi massa yang datang ke kantor Pertamina, persoalan tersebut belum berhenti pada upaya mengurai antrean.
Mereka juga ingin mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi.
Jenderal Lapangan Aksi, Fikasianus Iccang, mengatakan massa datang untuk meminta penjelasan mengenai persoalan BBM yang terjadi di Sulawesi Selatan.
“Ya jadi, ini tuntutannya kita di Pertamina, kita mau bertanyakan apa sebenarnya yang terjadi, permasalahan apa yang terjadi,” katanya.
Menurut Fikasianus, penjelasan mengenai penyebab kelangkaan BBM belum disampaikan secara rinci.
Ia menyebut dalam dialog, Pertamina antara lain menyampaikan adanya dugaan penggiringan opini mengenai kemungkinan kenaikan harga BBM.
Namun, menurut Fikasianus, dugaan tersebut perlu dibuktikan dengan data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita minta apakah itu sudah dilakukan secara ilmiah atau tidak. Risetnya apakah memang betul-betul karena penggiringan opini atau apa,” ujarnya.
Massa juga meminta pejabat Pertamina dengan kewenangan lebih tinggi memberikan penjelasan secara langsung mengenai akar persoalan tersebut.
“Karena itu kami minta juga, kami minta supaya pejabat yang berkompeten, direkturnya atau siapakah yang paling pimpinan tertinggi di PT Pertamina Regional Sulawesi untuk bisa mengklarifikasi langsung dan menjelaskan secara detail apa yang menjadi pokok permasalahan,” terangnya.
Tak hanya BBM, persoalan LPG 3 kilogram juga menjadi sorotan.
“Kenapa sampai terjadi kelangkaan BBM di Makassar dan juga kelangkaan gas LPG,” tukasnya.
Menunggu Bukan Pekerjaan
Pertamina sebelumnya menyatakan stok BBM dan LPG di Sulawesi Selatan berada dalam kondisi aman. Namun, peningkatan permintaan disebut turut memengaruhi antrean di sejumlah SPBU.
Di sisi lain, massa meminta data mengenai pasokan dan distribusi dibuka agar masyarakat mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi.
Fikasianus mengatakan pihaknya memberikan waktu dua hari kepada Pertamina untuk menyiapkan penjelasan berbasis data.
“Jadi tidak ada kesepakatan, kami meminta dua hari ke depan Pertamina untuk kemudian menyediakan data dengan permasalahan apa saja yang terjadi, karena ini menyangkut orang banyak,” katanya.
Sementara di salah satu sudut SPBU Jalan Pengayoman, Rudy masih menunggu.
Bagi masyarakat yang melihatnya dari luar, ia mungkin hanya tampak sebagai seorang sopir yang sedang mengisi bahan bakar.
Namun, di balik antrean itu ada pekerjaan yang tertunda, barang yang belum sampai, waktu yang hilang, dan penghasilan yang ikut dipertaruhkan.
Hampir empat jam berlalu dan bagi Rudy, selama truk belum mendapatkan solar, satu hal yang bisa ia lakukan hanya menunggu.
“Ini saja kerjaannya kita”, tutupnya.(Fz)

